Perencanaan Pariwisata
Pada tahun 2020 dunia mengalami musibah COVID-19 yang luar biasa meluluhlantahkan seluruh sektor, seperti sektor ekonomi, kesehatan, pendidikan dan pariwisata. Total kasus yang terkonfirmasi COVID-19 per tanggal 3 Februari 2021 sekitar 1.111.671 orang (News Google, 2021). Jumlah ini mengalami kenaikan dari hari ke hari dibuktikan dengan kurva yang cenderung merangkak tinggi. Adanya pandemi ini menyebabkan penurunan yang signifikan jumlah wisatawan baik lokal maupun internasional. Tentunya industri pariwisata mengalami kerugian yang cukup besar dikarenakan penutupan akses-akses bagi turis internasional dan diberlakukannya kebijakan penutupan obyek wisata. Hal ini dimaksudkan pemerintah untuk meminimalisir klaster baru penyebaran COVID-19. Berdasarkan data BPS 2021, terdapat penurunan jumlah wisatawan di Indonesia pada tahun 2020 sebesar 4,02 juta kunjungan. Apabila dibandingkan tahun 2019, jumlah wisatawan internasional turun sebesar 75,03 persen.
(Sumber : BPS)
Beberapa kebijakan telah dibuat pemerintah khususnya Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif untuk mengembalikan sektor pariwisata berjaya sebelum pandemi melanda. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno menyatakan beberapa arahan Presiden Jokowi terkait pemulihan pariwisata dan ekonomi kreatif di masa endemi. Arahan tersebut meliputi kemudahan investasi oleh pengusaha, revisi kebijakan sektor keuangan dan perencanaan pariwisata sebagai upaya pemulihan pariwisata dan ekonomi kreatif agar berjalan dengan baik. Perencanaan pariwisata di masa new normal atau era normal baru menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah dan pengusaha . Hal ini penting agar menjadi daya tarik wisata yang sesuai keinginan pasar namun tetap menerapkan protokol kesehatan.
Perencanaan pariwisata memiliki posisi penting dalam membangun citra suatu destinasi. Oleh karena itu pengembangan pariwisata harus dilakukan penelitian dan evaluasi guna menentukan pengembangan pariwisata yang tepat dan sesuai. Ada beberapa poin penting dalam membentuk perencanaan pariwisata diantaranya :
- Adanya aktivitas atau atraksi wisata yang menarik wisatawan.
- Akomodasi yang menerapkan nilai hospitality.
- Fasilitas-fasilitas penunjang seperti rumah makan, toko oleh-oleh, fasilitas kesehatan, SPBU, dsb.
- Aksesbilitas dan transpotasi yang terintegrasi.
- Infrastruktur yang baik.
(Sumber : Pariwisata SUMUT. net)
Dalam hal ini penulis akan mengambil contoh perencanaan Desa Wisata Janti, Kabupaten Klaten. Alasan dipilihnya Desa Wisata Janti dikarenakan tidak terpenuhinya syarat-syarat perencanaan pariwisata sesuai deskripsi diatas. Pengelolaan yang kurang terarah menyebabkan kekayaan alam dan budaya mengalami kerusakan. Selain itu infrastruktur dan aksesbilitas yang kurang memadahi. Tidak terdapat akomodasi dan fasilitas penunjang yang membantu wisatawan berkunjung ke daerah ini. Berdasarkan uraian mengenai perencanaan pariwisata, penulis akan mencoba menjabarkan perencanaan pariwisata Desa Wisata Janti, Kabupaten Klaten agar lebih terarah, terorganisir dan bermanfaat bagi masyarakat sekitar.
(Sumber : dokumentasi pribadi)
ATRAKSI
Desa Wisata Janti dikenal dengan produk ekowisatanya yaitu sumber mata air alami yang dikembangkan masyarakat sekitar sebagai pemandian atau umbul. Di dalam umbul, pengelola menawarkan aktivitas kolam renang, pemancingan, flying fox, terapi ikan dan aktivitas menarik lainnya. Terdapat beberapa umbul yang bisa dikunjung wisatawan di Desa Wisata Janti seperti Umbul Manten, Umbul Pelem, Umbul Asri, Umbul Aqua Regia, Janti Park, dll. Selain bisa menikmati aktivitas menarik wisatawan tidak perlu takut apabila tidak tesedianya makanan maupun minuman sebab di obyek wisata tersebut menjual makanan mulai dari snack hingga makanan besar. Selain merasakan segarnya mata air alami, wisatawan dapat menikmati pemandangan persawahan yang tidak dapat dirasakan masyarkat perkotaan.
Pengembangan atraksi wisata perlu dikembangan agar wisatawan dapat merasakan sensasi berwisata baru seperti pengelola dapat membuat taman bunga yang bisa menjadi lokasi spot yang menarik. Aktivitas outbond mengingat banyak rombongan anak sekolah yang sering berkunjung di umbul.
AKOMODASI
Akomodasi merupakan sarana yang menyediakan jasa pelayanan yang dilengkapi makan dan minum serta jasa lainnya seperti sarana olahraga, rekreasi, kecantikan dan yang sebagainya. Beberapa contoh akomodasi seperti hotel, motel, resor, homestay, inn. Apabila wisatawan berkunjung ke suatu destinasi diperlukan adanya akomodasi ini, namun akomodasi tidak dapat ditemukan di Desa Wisata janti. Akomodasi yang terdekat dari lokasi tersebut berjarak 9.8 km ke arah Boyolali dan 15 km ke arah Solo yang sangat jauh dari desa wisata.
Perlunya pemberdayaan untuk masyarakat mengenai akomodasi di lokasi desa wisata, masyarakat dapat membuat akomodasi di rumah mereka atau bisa disebut homestay. Peran pemerintah setempat untuk mensosialisasikan pengenalan homestay kepada masyarakt yang diharapkan mempermudah wisatwan untuk menginap dan berdampak dalam segi ekonomi bagi masyarakat setempat.
AKSESBILITAS
(Sumber : tangkapan layar Google Maps)
Desa Wisata Janti berjarak 6 km dari Jalan Raya Solo - Yogya, jalan ini dapat diakses mulai dari sepeda motor hingga bus berukuran besar. Apabila wisatawan tidak memiliki kendaraan pribadi untuk masuk ke dalam desa wisata, mereka dapat naik ojek atau sepur kelinci seharga Rp 10.000 - Rp 20.000. Akses masuk kedalam desa wisata cukup jauh dari jalan utama. Disepanjang jalan banyak jalan yang bergelombang dan berlubang yang membuat rawan kecelakaan. Selain itu terdapat proyek jalan tol Solo-Yogyakarta di KM 3 yang membuat jalan dipenuhi material pembangunan dan debu pasir yang bertebaran. Apabila musim penghujan tiba, jalan berlubang dan tergenang air yang harus diperhatikan pengendara.
Dinas terkait harus lebih memperhatikan masalah tersebut. Jalan ini merupakan akses terdekat dan sering dilewati wisatawan yang berkunjung ke daerah Janti dan sekitarnya. Aspal yang sudah ditambal akan rusak kembali di beberapa minggu kemudian. Selain itu rambu-rambu dan penerangan yang kurang sepanjang jalan tersebut. Apabila malam hari jalan gelap gulita dan membahayakan pengendara. Apabila aksesbilitas ke destinasi aman dan nyaman, mempermudah wisatawan berkunjung.
(Sumber : dokumentasi pribadi)
INFRASTRUKTUR
Tugu selamat datang yang kusam dan kurang tertatanya bentuk bangunan di sepanjang jalan utama Janti membuat pemandangan kurang indah. Aspal jalanan yang berlubang membuat para pengendara harus lebih berhati-hati. Rambu-rambu lalu lintas maupun rambu-rambu obyek wisata yang kurang terlihat atau pun eye catching yang tidak terlalu terlihat di jalan umum. Berkurangnya lahan persawahan yang menjadi ciri khas pedesaan yang berganti alih dengan bangunan. Penerangan jalan yang sangat kurang di malam hari yang sangat berbahaya bagi wisatawan.
(Sumber : dokumentasi pribadi)
Persawahan yang dialihfungsikan menjadi bangunan ruko atau rumah makan mengurangi lahan hijau sepanjang jalan desa wisata. Rambu-rambu lalu lintas ataupun penunjuk jalan yang kurang di arah menuju dan di lokasi wisata. Aksesoris desa wisata yang kurang memadai terlihat tidak nampak seperti desa wisata pada umumnya.
FASILITAS
Fasilitas-fasilitas penunjang dalam pariwisata seperti warung makan, SPBU, fasilitas kesehatan, dsb. Dalam wilayah ini banyak terdapat warung makan yang bervariasi mulai dari snack, makan besar seperti ikan bakar, pecel, soto yang dapat ditemui di sepanjang jalan utama. Apabila wisatawan membawa kendaraan pribadi, harus mengisi bensin terlebih dahulu karena jauh dari SPBU, namun terdapat pom mini yang dijual masyarakat sekitar. Fasilitas kesehatan yang setara dengan puskemas tersedia di desa wisata ini. Namun dilihat dari sisi pariwisata, fasilitas penunjang dinilai kurang.
Itulah sedikit penjelasan perencanaan pariwisata Desa Wisata Janti, penulis berharap agar Desa Wisata Janti dapat dikembangkan karena potensi daerah yang sangat tinggi. Apabila pemerintah daerah dan masyarakat mau bekerja sama membangun pariwisata daerah, diyakini akan berdampak baik bagi lingkungan dan masyarakat setempat. Terima kasih.
#manajemenpemasaran
#jasantaperanginangin
#stpsahidsurakarta
Comments
Post a Comment